KAMPAR (SK) — Deru mesin kendaraan dan riuh tawa wisatawan yang dulu memadati kawasan bukit Ulu Kasok kini telah lenyap, berganti sunyi yang mencekam. Destinasi wisata yang sempat dinobatkan sebagai “Raja Ampat-nya Riau” ini, kini tampak merana dan perlahan mulai terlupakan.
Pertengahan 2017 adalah masa kejayaan tempat ini. Kala itu, ribuan manusia rela berdesakan, mendaki jalur terjal demi menyaksikan keajaiban alam: gugusan pulau hijau yang menyembul indah di tengah tenangnya Danau PLTA Koto Panjang. Tempat ini sempat menjadi primadona, magnet ekonomi, dan kebanggaan masyarakat Kampar yang mendunia di media sosial.
Namun kini, waktu seolah berjalan lambat di Ulu Kasok. Puncak bukit yang dulu menjadi saksi bisu ribuan kilatan kamera, kini lebih sering kosong ditemani embusan angin sepoi-sepoi. Pada hari kerja, sunyi begitu mendominasi. Pondok-pondok pedagang yang dulu meraup untung besar, kini banyak yang kosong, lapuk, dan ditinggalkan pemiliknya karena sepi pembeli.
Baca juga: Bara di Balik Sawit Kampar: Ketika Tanah Ulayat Tergusur Atas Nama Korporasi

“Dulu, jangankan untuk duduk, untuk sekadar berdiri foto saja harus antre. Sekarang, jangankan antre, pengunjung yang datang bisa dihitung dengan jari,” keluh salah seorang warga lokal dengan tatapan nanar menatap hamparan danau.
Tragedi meredupnya Ulu Kasok tak lepas dari kurangnya inovasi. Di tengah menjamurnya objek wisata baru di sekitar Danau PLTA yang menawarkan fasilitas modern dan glamping mewah, Ulu Kasok seolah berjalan di tempat. Jalur pendakian tanah sepanjang 500 meter yang melelahkan sering kali membuat nyali wisatawan ciut, terutama saat hujan mengguyur dan mengubahnya menjadi kubangan lumpur.
Baca juga: Bayang-Bayang "El Nino Godzilla": Alarm Nyata Kebakaran Hutan dan Lahan di Kampar
Ulu Kasok kini berada di persimpangan jalan. Antara bangkit dari tidur panjangnya melalui pembenahan total, atau pasrah terkubur dalam memori sebagai destinasi yang pernah ada, pernah dicintai, namun akhirnya ditinggalkan.

Pertanyaannya kini sederhana: apakah Ulu Kasok akan kembali bangkit, atau perlahan menjadi monumen dari sebuah kejayaan pariwisata yang pernah ada?
Sebab alamnya masih menunggu.
Danau itu masih terbentang.
Bukit-bukit itu masih berdiri.
Tetapi tanpa langkah nyata, surga yang pernah ramai itu bisa saja berubah menjadi sekadar tempat indah yang kesepian.***