Karhutla Kampar Meluas, Sejumlah Titik Masih Dalam Penanganan Petugas

KAMPAR — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menjadi perhatian di Kabupaten Kampar, Riau. Sejumlah titik kebakaran terjadi di tengah kondisi cuaca panas dan hembusan angin yang berpotensi mempercepat penjalaran api.

Laporan terbaru yang tersedia hingga 17 Agustus 2026 mencatat sedikitnya tiga kejadian kebakaran lahan di wilayah Kabupaten Kampar. Lokasinya berada di Desa Rimbo Panjang dan Desa Tarai Bangun, Kecamatan Tambang, serta Desa Sungai Jalau, Kecamatan Kampar Utara.

Di Desa Rimbo Panjang, lahan yang terbakar berada di Jalan HM Nazir, tepat di depan Pondok Pesantren Gontor 7. Luas lahan yang terdampak diperkirakan sekitar 0,3 hektare. Api telah berhasil dipadamkan, meski petugas masih menemukan kepulan asap di lokasi.

Baca juga: Rangkaian Peristiwa Ekonomi Kabupaten Kampar: Dari Masa ke Masa hingga 2025

Sementara itu, kebakaran di Desa Sungai Jalau, Kecamatan Kampar Utara, menghanguskan sekitar dua hektare lahan. Api dilaporkan telah padam, namun proses pendinginan tetap dilakukan karena masih terdapat asap. Kawasan tersebut merupakan area mineral gambut dengan vegetasi perkebunan sawit dan karet.

Kondisi berbeda terjadi di Desa Tarai Bangun, Kecamatan Tambang. Kebakaran di Jalan Keluarga dan Jalan Perwira diperkirakan telah membakar sekitar tiga hektare lahan gambut yang ditumbuhi vegetasi sawit. Hingga laporan terakhir, api di lokasi tersebut belum sepenuhnya padam.

Angin Kencang Jadi Kendala

Petugas gabungan dari BPBD Kampar, TNI, Polri, Manggala Agni dan Masyarakat Peduli Api (MPA) masih melakukan pemadaman, penyekatan, pendinginan serta pemantauan untuk mencegah api meluas.

Baca juga: Bayang-Bayang "El Nino Godzilla": Alarm Nyata Kebakaran Hutan dan Lahan di Kampar

Kondisi lapangan menjadi tantangan tersendiri. Sejumlah lokasi sulit dijangkau kendaraan, sumber air berada cukup jauh dari titik kebakaran, sementara angin kencang dapat membuat api kembali menjalar ke area yang belum terbakar.

Selain tiga titik tersebut, karhutla yang lebih luas juga dilaporkan terjadi di Desa Kualu Nenas, Kecamatan Tambang. Kebakaran di kawasan Jalan Uka itu diperkirakan telah mencapai sekitar 10 hektare lahan berupa semak belukar di atas gambut yang cukup tebal.

Kapolres Kampar AKBP Boby Putra Ramadhan Sebayang turun langsung memimpin penanganan di lokasi tersebut pada 14 Agustus. Sekitar 55 personel gabungan dikerahkan untuk melakukan pemadaman dan pendinginan. Penanganan juga didukung satu unit helikopter untuk water bombing serta sejumlah mesin pemadam.

Kampar Catat Hotspot Terbanyak di Riau

Di tengah upaya pemadaman, jumlah titik panas di Provinsi Riau memang menunjukkan penurunan. Berdasarkan pemantauan BMKG Pekanbaru pada 15 Agustus, terdapat 26 hotspot di Riau.

Namun, Kabupaten Kampar justru menjadi wilayah dengan jumlah hotspot terbanyak dalam pemantauan tersebut, yakni 10 titik. Hotspot lainnya tersebar di sejumlah kabupaten seperti Pelalawan, Indragiri Hilir, Kuantan Singingi dan Kepulauan Meranti.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa penurunan jumlah hotspot belum otomatis berarti ancaman karhutla telah berakhir. Api yang berada di lahan gambut dapat bertahan di bawah permukaan dan kembali muncul apabila proses pendinginan tidak dilakukan secara menyeluruh.

Masyarakat Diminta Tidak Membakar Lahan

BPBD Kampar mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan pembukaan lahan dengan cara membakar. Warga juga diminta segera melaporkan apabila menemukan titik api maupun kepulan asap di sekitar permukiman, perkebunan atau kawasan hutan.

Kapolres Kampar juga mengingatkan masyarakat untuk bersama-sama menjaga lingkungan dan tidak melakukan pembakaran lahan secara sembarangan. Penyebab kebakaran di Kualu Nenas sendiri masih dalam proses penyelidikan.

Dengan masih berlangsungnya penanganan di sejumlah lokasi, kewaspadaan terhadap karhutla di Kabupaten Kampar perlu terus ditingkatkan. Kolaborasi pemerintah daerah, aparat keamanan, petugas pemadam dan masyarakat menjadi kunci agar kebakaran tidak berkembang menjadi bencana yang lebih besar.

Catatan redaksi: Naskah ini menggunakan informasi terbaru yang dapat diverifikasi secara daring hingga 19 Agustus 2026. Karena belum ditemukan laporan kejadian baru yang terbit tepat pada 19 Agustus, angka dan kondisi di atas merujuk pada laporan lapangan terakhir yang tersedia, terutama perkembangan 14–17 Agustus 2026.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait

Terkini