KAMPAR — Ancaman iklim ekstrem yang kerap diasosiasikan dengan julukan “El Nino Godzilla” kini bukan lagi sekadar proyeksi di atas kertas. Fenomena pemanasan suhu muka laut di Samudra Pasifik dengan skala masif ini, yang diperburuk oleh anomali global, nyata-nyata mendatangkan musim kemarau yang jauh lebih kering dan panas di berbagai wilayah Indonesia.
Dampaknya kini menghantam bumi Riau secara langsung. Kabupaten Kampar dalam beberapa hari terakhir menjadi salah satu front terdepan pertempuran melawan bencana ekologis: Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla).
Karhutla Berkobar di Berbagai Titik di Kampar
Situasi lapangan menunjukkan eskalasi ancaman yang mengkhawatirkan. Dalam sepekan terakhir, petugas gabungan dari unsur Manggala Agni, BPBD, TNI, Polri, hingga masyarakat peduli api harus berjibaku tanpa kenal lelah.
Baca juga: Karhutla Kampar Meluas, Sejumlah Titik Masih Dalam Penanganan Petugas
Catatan lapangan menunjukkan titik-titik api bermunculan di sejumlah kecamatan di Kampar. Mulai dari kawasan gambut di Desa Kualu Nenas (Kecamatan Tambang) yang melahap belasan hektare lahan, kebakaran hutan muda di perbukitan Desa Siabu (Kecamatan Salo) yang berbatasan langsung dengan ibukota kabupaten, hingga ancaman titik api di Kecamatan Tapung.
Kombinasi cuaca terik akibat dinamika atmosfer global dan karakteristik topografi lokal membuat api merambat dengan cepat. Angin kencang serta terbatasnya sumber air di beberapa titik pedalaman kian mempersulit gerak tim di darat. Operasi pemadaman dari udara melalui water bombing menggunakan helikopter BNPB pun harus dikerahkan secara masif ke wilayah-wilayah yang sulit dijangkau.
Anatomi Bencana: Mengapa “El Nino Godzilla” Begitu Berbahaya?
Sebagai pengamat iklim dan lingkungan, eskalasi karhutla di Kampar ini sudah dapat terbaca polanya sejak awal tahun. Istilah “El Nino Godzilla” disematkan oleh para pakar iklim, termasuk dari BRIN, untuk menggambarkan fenomena El Nino berintensitas sangat kuat yang beresonansi dengan indeks iklim global lainnya.
Baca juga: Harapan Jadi Cemas, 41 Siswa di Tapung Hulu Terbaring Usai Santap Menu MBG
Catatan Klimatologis:
Saat El Nino kuat mendominasi, pasokan uap air dari Samudra Pasifik bagian barat tertarik menjauh dari wilayah Indonesia. Akibatnya, pembentukan awan hujan drastis menyusut. Di wilayah Sumatra, kondisi ini diperparah oleh penurunan curah hujan harian yang drastis, membuat kelembapan tanah (soil moisture) merosot tajam.
Bagi wilayah yang memiliki ekosistem lahan gambut seperti sebagian wilayah Riau, kondisi ini merupakan “kotak Pandora”. Lahan gambut yang mengering di bawah permukaan (sub-surface fire) bertindak seperti bom waktu. Sekali tersulut—baik oleh faktor alam maupun aktivitas pembukaan lahan—api di dalam gambut akan sangat sulit dipadamkan dan terus membara secara tersembunyi, menghasilkan asap pekat yang mulai mencemari udara regional hingga kota-kota sekitar.
Mitigasi dan Siaga Darurat
Menghadapi amukan cuaca ekstrem di bawah pengaruh anomali iklim ini, langkah penanggulangan tidak boleh lagi bersifat konvensional atau sekadar reaktif pemadaman api semata.
- Pengawasan Ketat Ekosistem Gambut: Pemerintah daerah dan masyarakat harus meningkatkan patroli harian di area rawan, mengingat satu percikan kecil saja dapat memicu disaster berskala besar.
- Optimalisasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC): Jika memungkinkan, intervensi buatan untuk memancing hujan di langit Riau mendesak untuk dilakukan demi menjaga tingkat pembasahan gambut.
- Penegakan Hukum Tegas: Memastikan tidak ada celah bagi praktik pembukaan lahan dengan cara membakar yang memanfaatkan kelengahan di tengah cuaca kering ekstrem.
Fenomena iklim global hari ini telah mengetuk pintu rumah kita di Kampar. Tanpa kesiagaan kolektif, sinergi lintas sektoral, dan kedisiplinan menjaga alam, bayang-bayang kabut asap tebal masa lalu dikhawatirkan akan kembali berulang.