<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>KESEHATAN &#8211; Suara Kampar</title>
	<atom:link href="https://www.suarakampar.com/category/kesehatan/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.suarakampar.com</link>
	<description>Kawal Kampar dengan Berita</description>
	<lastBuildDate>Thu, 17 Sep 2026 05:21:58 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1.2</generator>

<image>
	<url>https://www.suarakampar.com/wp-content/uploads/2024/12/favicon-1-150x150.png</url>
	<title>KESEHATAN &#8211; Suara Kampar</title>
	<link>https://www.suarakampar.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Bangkinang Diselimuti Asap Pekat, ISPU Tembus 203!</title>
		<link>https://www.suarakampar.com/4117/bangkinang-diselimuti-asap-pekat-ispu-tembus-203</link>
					<comments>https://www.suarakampar.com/4117/bangkinang-diselimuti-asap-pekat-ispu-tembus-203#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 17 Sep 2026 05:21:58 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[KESEHATAN]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.suarakampar.com/?p=4117</guid>

					<description><![CDATA[BANGKINANG — (SK) Udara di Bangkinang dan sekitarnya kian mengkhawatirkan. Angka Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) melonjak hingga 203, Kamis (17/9/2026) sekitar pukul 11.20 WIB. Kondisi ini menempatkan kualitas udara pada kategori sangat tidak sehat. Angka tersebut tercatat berdasarkan pemantauan stasiun kualitas udara yang berada di Kantor Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Kampar, Jalan Tuanku [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>BANGKINANG — (SK) Udara di Bangkinang dan sekitarnya kian mengkhawatirkan. Angka Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) melonjak hingga 203, Kamis (17/9/2026) sekitar pukul 11.20 WIB. Kondisi ini menempatkan kualitas udara pada kategori sangat tidak sehat.</p>
<p>Angka tersebut tercatat berdasarkan pemantauan stasiun kualitas udara yang berada di Kantor Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Kampar, Jalan Tuanku Tambusai, Bangkinang.</p>
<p>Situasi ini langsung mendapat perhatian serius dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kampar. Masyarakat diminta tidak menganggap remeh kondisi udara yang dipenuhi asap tersebut.</p>
<p>Dinkes mengimbau warga mengurangi aktivitas di luar ruangan, terutama ketika kualitas udara masih berada pada level sangat tidak sehat.</p>
<p>Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kampar, dr. Zulhendra, melalui Kabid Pelayanan dan Kesehatan (Yankes), dr. Siti Valiani, menegaskan masyarakat yang terpaksa beraktivitas di luar rumah agar menggunakan masker.</p>
<p>“Kalau untuk kita dari Dinas Kesehatan, sebaiknya mengurangi aktivitas di luar ruangan, kemudian jangan lupa menggunakan masker,” ujar Siti Valiani, Kamis (17/9/2026).</p>
<p>Peringatan lebih keras ditujukan kepada anak-anak.</p>
<p>Dinkes Kampar mengimbau agar anak-anak untuk sementara waktu tidak melakukan aktivitas di luar rumah, termasuk kegiatan yang mengharuskan siswa berada di ruang terbuka.</p>
<p>Bagi masyarakat yang tetap berada di dalam rumah, Dinkes juga menyarankan agar jendela ditutup ketika kondisi udara di luar dipenuhi asap, sehingga paparan udara tercemar dapat diminimalkan.</p>
<p>Tak hanya soal masker dan pembatasan aktivitas, masyarakat juga diminta menjaga daya tahan tubuh dengan mengonsumsi makanan bergizi, vitamin, serta memperbanyak minum air putih.</p>
<p>Menurut Siti Valiani, paparan udara dengan kualitas buruk berpotensi meningkatkan risiko gangguan saluran pernapasan, termasuk Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).</p>
<p>Karena itu, selama kualitas udara belum kembali membaik, masyarakat diminta lebih waspada dan sebisa mungkin mengurangi paparan langsung terhadap udara luar.</p>
<p>Sekolah Jadi Perhatian</p>
<p>Kondisi udara yang semakin buruk juga membuat aktivitas belajar mengajar di sekolah ikut menjadi perhatian.</p>
<p>Dinkes Kampar menyatakan akan segera berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Kampar untuk membahas langkah perlindungan terhadap siswa.</p>
<p>Koordinasi tersebut akan dilakukan secepatnya untuk menentukan langkah yang diperlukan menyikapi buruknya kualitas udara.</p>
<p>Dinkes memastikan komunikasi dengan Disdikpora akan dilakukan tanpa harus menunggu pertemuan secara langsung.</p>
<p>Dengan ISPU yang sudah menembus angka 203, masyarakat kini diminta tidak sekadar melihat kabut asap sebagai gangguan jarak pandang. Udara yang dihirup setiap hari juga menjadi ancaman terhadap kesehatan, terutama bagi anak-anak dan kelompok rentan.</p>
<p>Kondisi udara buruk ini pun menjadi peringatan agar aktivitas di luar ruangan benar-benar dipertimbangkan sampai kualitas udara kembali berada pada kondisi yang lebih aman.***</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://www.suarakampar.com/4117/bangkinang-diselimuti-asap-pekat-ispu-tembus-203/feed</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kacau di Tengah Kabut Asap, Ada Sekolah di Kampar Libur, Ada yang Tetap Masuk</title>
		<link>https://www.suarakampar.com/4111/kacau-di-tengah-kabut-asap-ada-sekolah-di-kampar-libur-ada-yang-tetap-masuk</link>
					<comments>https://www.suarakampar.com/4111/kacau-di-tengah-kabut-asap-ada-sekolah-di-kampar-libur-ada-yang-tetap-masuk#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 17 Sep 2026 04:10:15 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[KESEHATAN]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.suarakampar.com/?p=4111</guid>

					<description><![CDATA[BANGKINANG (SK) — Kabut asap yang kembali menyelimuti sejumlah wilayah Kabupaten Kampar mulai mengusik aktivitas masyarakat. Namun di tengah udara yang tidak sehat, muncul kondisi yang membuat orang tua dan siswa bertanya-tanya: ada sekolah yang memilih belajar dari rumah, tetapi ada pula yang tetap melaksanakan pembelajaran tatap muka. Kondisi ini menimbulkan kesan tidak seragam dalam [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>BANGKINANG (SK) — Kabut asap yang kembali menyelimuti sejumlah wilayah Kabupaten Kampar mulai mengusik aktivitas masyarakat. Namun di tengah udara yang tidak sehat, muncul kondisi yang membuat orang tua dan siswa bertanya-tanya: ada sekolah yang memilih belajar dari rumah, tetapi ada pula yang tetap melaksanakan pembelajaran tatap muka.</p>
<p>Kondisi ini menimbulkan kesan tidak seragam dalam menyikapi ancaman kabut asap yang belakangan kembali menjadi persoalan di Kampar.</p>
<p>Sebelumnya, Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Kampar telah menerapkan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) secara situasional di sejumlah sekolah yang berada di wilayah dengan kualitas udara tidak sehat.</p>
<p>Kebijakan tersebut mulai diberlakukan pada beberapa sekolah sejak 8 September 2026. Saat itu, berdasarkan pemantauan kualitas udara, ISPU Kampar mencapai angka 120 dengan parameter kritis PM2,5.</p>
<p>Namun, kebijakan tersebut tidak diberlakukan secara serentak di seluruh sekolah.</p>
<p>Di lapangan, kondisi tersebut membuat sebagian orang tua mempertanyakan mengapa ketika kabut asap terlihat menyelimuti wilayah yang sama, ada siswa yang diminta belajar dari rumah sementara siswa lainnya tetap harus datang ke sekolah.</p>
<p>Persoalannya bukan sekadar soal masuk atau tidak masuk sekolah. Yang menjadi kekhawatiran adalah paparan udara tidak sehat terhadap anak-anak yang harus tetap beraktivitas di luar rumah.</p>
<p>Taufik, salah satu pemuda Kampar mempertanyakan kondisi yang membingungkan ini, &#8220;kita menghisap udara yang sama, tapi setiap sekolah kok berbeda dalam menetapkan kebijakan masuk atau libur sekolah. Bahkan di Bangkinang ini saja ada sekolah yang menjadi kewenangan Pemkab Kampar (SD dan SMP) masih tatap muka namun ada juga yang sudah libur,&#8221; sebutnya.</p>
<p>Dia juga menyayangkan penanganan Karhutla yang terkesan tidak terkoordinir dengan baik, &#8220;sangat terlihat kacau dan tidak terkoordinir dengan baik. Akhirnya informasi yang didapatkan masyarakat juga tidak akurat,&#8221; ujarnya.</p>
<p>Kondisi di Kampar pun akhirnya menghadirkan pertanyaan yang cukup sederhana, tetapi penting:</p>
<p>Jika asap sudah cukup mengganggu kualitas udara, mengapa kebijakan sekolah tidak dibuat lebih jelas dan seragam?</p>
<p>Orang tua tentu membutuhkan kepastian. Apakah anak tetap datang ke sekolah, belajar dari rumah, atau mengikuti pola pembelajaran tertentu yang disesuaikan dengan kondisi udara.</p>
<p>Sebab, dalam situasi kabut asap seperti sekarang, jangan sampai keselamatan anak justru kalah cepat dibanding jadwal masuk sekolah.</p>
<p>Masyarakat berharap pemerintah daerah dapat memberikan penjelasan yang jelas mengenai parameter dan mekanisme penentuan sekolah yang menerapkan PJJ maupun yang tetap melaksanakan pembelajaran tatap muka.</p>
<p>Jangan sampai di tengah kabut asap yang sama, anak-anak Kampar mendapatkan perlakuan yang berbeda tanpa penjelasan yang terang</p>
<p>Sebelumnya, Anggota DPRD Kampar Agus Candra juga telah meminta pemerintah daerah mengambil langkah lebih tegas terhadap aktivitas pembelajaran di tengah kabut asap. Ia mengusulkan agar sekolah diliburkan atau menerapkan pembelajaran daring ketika kualitas udara memburuk, dengan alasan kesehatan dan keselamatan anak harus menjadi prioritas.</p>
<p>Di sisi lain, pemerintah pusat menegaskan bahwa daerah terdampak karhutla dapat menyesuaikan kegiatan pembelajaran dengan kondisi kualitas udara. Kemendikdasmen juga menekankan bahwa penghentian sementara tatap muka bukan berarti hak belajar anak dihentikan, melainkan proses pembelajaran dapat dipindahkan sementara ke rumah.***</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://www.suarakampar.com/4111/kacau-di-tengah-kabut-asap-ada-sekolah-di-kampar-libur-ada-yang-tetap-masuk/feed</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Langit Kampar Belum Bersih, Hujan Tak Mampu Menjinakkan Asap</title>
		<link>https://www.suarakampar.com/4106/langit-kampar-belum-bersih-hujan-tak-mampu-menjinakkan-asap</link>
					<comments>https://www.suarakampar.com/4106/langit-kampar-belum-bersih-hujan-tak-mampu-menjinakkan-asap#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 10 Sep 2026 06:30:37 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[KESEHATAN]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.suarakampar.com/?p=4106</guid>

					<description><![CDATA[BANGKINANG — Hujan deras yang mengguyur sebagian besar wilayah Kampar sepanjang malam ternyata belum sepenuhnya mampu mengusir kabut asap yang menyelimuti wilayah Kabupaten Kampar, Kamis (10/9/2026). Terpantau Pagi harinya, sejumlah kawasan di pusat Kota Bangkinang masih tampak berkabut. Udara yang seharusnya terasa lebih segar setelah diguyur hujan justru masih menyisakan aroma asap dan jarak pandang [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>BANGKINANG — Hujan deras yang mengguyur sebagian besar wilayah Kampar sepanjang malam ternyata belum sepenuhnya mampu mengusir kabut asap yang menyelimuti wilayah Kabupaten Kampar, Kamis (10/9/2026).</p>
<p>Terpantau Pagi harinya, sejumlah kawasan di pusat Kota Bangkinang masih tampak berkabut. </p>
<p>Udara yang seharusnya terasa lebih segar setelah diguyur hujan justru masih menyisakan aroma asap dan jarak pandang yang terlihat berkabut.</p>
<p>Kondisi ini menimbulkan pertanyaan besar. Jika hujan semalaman belum mampu membersihkan udara, dari mana asap masih terus datang?</p>
<p>Kabut asap yang bertahan setelah hujan mengindikasikan bahwa persoalan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) belum sepenuhnya tuntas. </p>
<p>Hujan memang dapat membantu membasahi permukaan lahan dan meredam sebagian titik api, namun pada lahan tertentu, terutama kawasan gambut, bara api di bawah permukaan dapat tetap bertahan dan kembali menghasilkan asap.</p>
<p>Masyarakat pun diminta tetap waspada. </p>
<p>Kabut asap bukan hanya mengganggu aktivitas dan jarak pandang, tetapi juga dapat berdampak terhadap kualitas udara dan kesehatan, terutama bagi anak-anak, lansia, serta masyarakat yang memiliki sensitivitas terhadap asap.</p>
<p>Fenomena ini sekaligus menjadi pengingat bahwa hujan bukan berarti persoalan Karhutla otomatis berakhir. </p>
<p>Pemantauan titik rawan dan upaya memastikan api benar-benar padam tetap diperlukan.</p>
<p>Bangkinang boleh diguyur hujan, tetapi jika asap masih menggantung di udara, pertanyaan tentang sumbernya tak boleh dibiarkan ikut menguap.***</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://www.suarakampar.com/4106/langit-kampar-belum-bersih-hujan-tak-mampu-menjinakkan-asap/feed</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kampar Bergerak Lawan TBC, Anggota Komisi IX DPR RI dan Germas Gencarkan untuk Populasi Berisiko</title>
		<link>https://www.suarakampar.com/4103/kampar-bergerak-lawan-tbc-anggota-komisi-ix-dpr-ri-dan-germas-gencarkan-untuk-populasi-berisiko</link>
					<comments>https://www.suarakampar.com/4103/kampar-bergerak-lawan-tbc-anggota-komisi-ix-dpr-ri-dan-germas-gencarkan-untuk-populasi-berisiko#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 10 Sep 2026 03:54:16 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[KESEHATAN]]></category>
		<category><![CDATA[NASIONAL]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.suarakampar.com/?p=4103</guid>

					<description><![CDATA[KAMPAR — Ancaman penyakit Tuberkulosis (TBC) masih menjadi perhatian serius. Upaya pencegahan dan penanggulangannya terus didorong melalui edukasi kepada masyarakat, khususnya kelompok yang masuk dalam populasi berisiko. Hal tersebut menjadi bagian dari kegiatan Sosialisasi Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS) dalam Penanggulangan Penyakit Tuberkulosis pada Populasi Berisiko, yang digelar di gedung Mahligai Bungsu, Bangkinang Kota, Kamis [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>KAMPAR — Ancaman penyakit Tuberkulosis (TBC) masih menjadi perhatian serius. Upaya pencegahan dan penanggulangannya terus didorong melalui edukasi kepada masyarakat, khususnya kelompok yang masuk dalam populasi berisiko.</p>
<p>Hal tersebut menjadi bagian dari kegiatan Sosialisasi Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS) dalam Penanggulangan Penyakit Tuberkulosis pada Populasi Berisiko, yang digelar di gedung Mahligai Bungsu, Bangkinang Kota, Kamis (10/9/2026).</p>
<p>Kegiatan tersebut melibatkan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia bersama Ir. H. Sahidin, Anggota Komisi IX DPR RI, sebagai bagian dari upaya memperkuat kesadaran masyarakat terhadap bahaya TBC sekaligus pentingnya menerapkan pola hidup sehat.</p>
<p>TBC bukan sekadar persoalan kesehatan individu. Penyakit yang dapat menular melalui udara ini juga menjadi persoalan sosial yang membutuhkan kesadaran dan keterlibatan masyarakat secara bersama-sama.</p>
<p>Melalui gerakan hidup sehat, masyarakat diharapkan semakin memahami pentingnya menjaga kebersihan lingkungan, memperbaiki pola hidup, mengenali gejala TBC sejak dini serta tidak mengabaikan pemeriksaan kesehatan ketika muncul tanda-tanda penyakit.</p>
<p>Sosialisasi ini juga menjadi momentum untuk mendorong masyarakat agar tidak memberikan stigma kepada penderita TBC. Sebaliknya, mereka membutuhkan dukungan untuk mendapatkan pemeriksaan dan pengobatan hingga tuntas.</p>
<p>Pesannya jelas: TBC dapat dicegah, dapat diobati, dan deteksi dini menjadi salah satu kunci untuk memutus mata rantai penularannya.</p>
<p>Kehadiran Kementerian Kesehatan bersama wakil rakyat di tingkat pusat diharapkan semakin memperkuat komitmen dalam meningkatkan kesadaran masyarakat Kampar terhadap perilaku hidup sehat serta penanggulangan TBC, terutama bagi kelompok masyarakat yang memiliki risiko lebih tinggi.(SK)</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://www.suarakampar.com/4103/kampar-bergerak-lawan-tbc-anggota-komisi-ix-dpr-ri-dan-germas-gencarkan-untuk-populasi-berisiko/feed</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kabut Asap Makin Pekat, Sekolah Kampar Masih Tatap Muka: Menunggu Apa?</title>
		<link>https://www.suarakampar.com/4097/kabut-asap-makin-pekat-sekolah-kampar-masih-tatap-muka-menunggu-apa</link>
					<comments>https://www.suarakampar.com/4097/kabut-asap-makin-pekat-sekolah-kampar-masih-tatap-muka-menunggu-apa#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 09 Sep 2026 08:53:24 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[KESEHATAN]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.suarakampar.com/?p=4097</guid>

					<description><![CDATA[KAMPAR (SK) — Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menjadi ancaman serius bagi masyarakat Kabupaten Kampar. Di tengah kualitas udara yang masuk kategori tidak sehat, aktivitas belajar mengajar di sejumlah sekolah masih berlangsung secara tatap muka. Pertanyaannya sederhana namun penting: sampai kapan anak-anak harus berada di ruang terbuka dan lingkungan sekolah ketika [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>KAMPAR (SK) — Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menjadi ancaman serius bagi masyarakat Kabupaten Kampar. Di tengah kualitas udara yang masuk kategori tidak sehat, aktivitas belajar mengajar di sejumlah sekolah masih berlangsung secara tatap muka.</p>
<p>Pertanyaannya sederhana namun penting: sampai kapan anak-anak harus berada di ruang terbuka dan lingkungan sekolah ketika kualitas udara tidak lagi sehat?</p>
<p>Data AQMS/ISPU Kabupaten Kampar pada Selasa (8/9/2026) pukul 15.00 WIB menunjukkan angka 120, masuk kategori tidak sehat, dengan PM2,5 sebagai parameter kritis. Kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan kabut asap bukan lagi sebatas gangguan jarak pandang, tetapi sudah menyentuh aspek kesehatan masyarakat.</p>
<p>Pemkab Kampar sebenarnya telah mengambil langkah dengan memberikan ruang bagi sekolah untuk menerapkan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) apabila kondisi udara di wilayah sekolah dinilai membahayakan siswa. Namun kebijakan tersebut bersifat situasional dan tidak diberlakukan serentak.</p>
<p>Sejumlah sekolah di Kecamatan Siak Hulu, Tambang dan Tapung, terutama yang berbatasan dengan Kota Pekanbaru, telah beralih ke pembelajaran daring. Namun belum seluruh sekolah di kecamatan tersebut menerapkan kebijakan yang sama.</p>
<p>Kondisi ini memunculkan pertanyaan lain: apakah kebijakan yang sepenuhnya bergantung pada kondisi masing-masing sekolah cukup efektif menghadapi ancaman asap yang terus bergerak dan berubah?</p>
<p>Ketika Udara Tak Sehat, Anak Tetap Berangkat Sekolah</p>
<p>Anak-anak merupakan salah satu kelompok yang perlu mendapat perhatian lebih ketika kualitas udara memburuk.</p>
<p>Paparan partikel halus seperti PM2,5 dapat menjadi persoalan kesehatan, terlebih jika berlangsung terus-menerus. Karena itu, keputusan mengenai aktivitas pendidikan semestinya tidak hanya mempertimbangkan keberlangsungan proses belajar, tetapi juga mempertimbangkan faktor kesehatan dan keselamatan peserta didik.</p>
<p>Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah bahkan telah menerbitkan Surat Edaran Nomor 20 Tahun 2026 yang mengatur panduan layanan pendidikan di daerah terdampak karhutla. Dalam kebijakan tersebut, keselamatan warga sekolah ditegaskan sebagai prioritas ketika kondisi asap membahayakan.</p>
<p>Artinya, pembelajaran tidak harus berhenti ketika sekolah ditutup sementara. Teknologi memungkinkan proses belajar dialihkan ke rumah melalui sistem daring.</p>
<p>Kampar Perlu Kebijakan yang Lebih Tegas?</p>
<p>Persoalan menjadi semakin menarik jika melihat daerah tetangga.</p>
<p>Pemerintah Kota Pekanbaru sebelumnya mengambil langkah dengan menerapkan PJJ selama 7–8 September 2026 setelah kualitas udara masuk kategori tidak sehat. Kebijakan tersebut diberlakukan sebagai langkah pencegahan untuk mengurangi paparan asap terhadap anak-anak.</p>
<p>Sementara di Kampar, pendekatannya lebih fleksibel: sekolah diberikan kewenangan menerapkan PJJ berdasarkan kondisi udara di wilayah masing-masing.</p>
<p>Pendekatan ini tentu memiliki alasan. Kondisi udara tidak selalu sama di seluruh wilayah Kampar. Namun, ketika kabut asap semakin pekat dan kualitas udara berada pada kategori tidak sehat, kecepatan mengambil keputusan menjadi sama pentingnya dengan ketepatan keputusan.</p>
<p>Jangan sampai pemerintah baru mengambil langkah setelah anak-anak mulai banyak mengeluhkan gangguan kesehatan.</p>
<p>Sebab sekolah memang penting.</p>
<p>Pendidikan juga tidak boleh terhenti.</p>
<p>Tetapi kesehatan anak jauh lebih penting.</p>
<p>Jangan Tunggu Anak Jatuh Sakit</p>
<p>Kabut asap bukan sekadar pemandangan kelabu yang menutupi langit. Ia membawa partikel yang tidak terlihat mata dan dapat masuk ke sistem pernapasan.</p>
<p>Karena itu, ketika indikator kualitas udara sudah menunjukkan kategori tidak sehat, kewaspadaan harus ditingkatkan.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://www.suarakampar.com/4097/kabut-asap-makin-pekat-sekolah-kampar-masih-tatap-muka-menunggu-apa/feed</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Siswa Bergelimpangan di Puskesmas, SPPG MBG Tapung Hulu Diminta Stop</title>
		<link>https://www.suarakampar.com/3981/siswa-bergelimpangan-di-puskesmas-sppg-mbg-tapung-hulu-diminta-stop</link>
					<comments>https://www.suarakampar.com/3981/siswa-bergelimpangan-di-puskesmas-sppg-mbg-tapung-hulu-diminta-stop#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 20 Aug 2026 05:10:28 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[KESEHATAN]]></category>
		<category><![CDATA[PEMDA Kampar]]></category>
		<category><![CDATA[TAPUNG RAYA]]></category>
		<category><![CDATA[#MBG #KeracunanMBG]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.suarakampar.com/?p=3981</guid>

					<description><![CDATA[TAPUNG HULU (SK) -Kasus dugaan gangguan kesehatan yang dialami puluhan siswa SMK Negeri 1 Tapung Hulu setelah menyantap makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG) mendapat perhatian serius Pemerintah Kabupaten Kampar. Ketua Satgas MBG Kabupaten Kampar yang juga Wakil Bupati Kampar, Hj. Misharti, turun langsung meninjau kondisi para siswa yang mendapatkan perawatan di sejumlah fasilitas kesehatan, [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>TAPUNG HULU (SK) -Kasus dugaan gangguan kesehatan yang dialami puluhan siswa SMK Negeri 1 Tapung Hulu setelah menyantap makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG) mendapat perhatian serius Pemerintah Kabupaten Kampar.</p>
<p>Ketua Satgas MBG Kabupaten Kampar yang juga Wakil Bupati Kampar, Hj. Misharti, turun langsung meninjau kondisi para siswa yang mendapatkan perawatan di sejumlah fasilitas kesehatan, Rabu (19/8/2026) kemarin.</p>
<p>Tak hanya mengecek kondisi siswa, Misharti bersama Dinas Kesehatan dan BPOM juga mengambil sampel makanan untuk pemeriksaan serta meninjau dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang menyediakan makanan MBG.</p>
<p>“Dari Satgas sudah mengambil sampel. Saya juga membawa BPOM dan Kepala Dinas Kesehatan. Kami meninjau korban di Puskesmas Tapung, Puskesmas Suram, yang ada di Tandun, sekaligus melihat SPPG dan dapurnya,” ujar Misharti.</p>
<p>Misharti menegaskan, pemerintah daerah menyesalkan kejadian tersebut. Namun, menurutnya, prioritas utama saat ini adalah memastikan seluruh siswa yang mengalami keluhan mendapat penanganan medis.</p>
<p>“Kami dari pemerintah tentu sangat menyesalkan kejadian ini. Tetapi yang paling utama, anak-anak kita yang sakit harus mendapatkan pelayanan kesehatan dengan baik,” tegasnya.</p>
<p>Lebih dari 80 Siswa Terdampak</p>
<p>Misharti menyebut sekitar 45 orang sebelumnya sempat mendapatkan perawatan dan telah diperbolehkan pulang. Namun, saat peninjauan berlangsung, sekitar 40 orang kembali datang untuk mendapatkan pelayanan kesehatan.</p>
<p>Dengan demikian, jumlah siswa yang terdampak sementara diperkirakan lebih dari 80 orang.</p>
<p>Meski demikian, Misharti menegaskan angka tersebut masih sementara karena proses pendataan dan pemantauan terhadap siswa masih berlangsung.</p>
<p>“Diperkirakan seperti itu, tapi detailnya saya belum tahu karena kita tidak tahu berapa lagi yang mungkin mengalami keluhan. Yang pertama, saya harus yakin mereka mendapatkan pelayanan dari Puskesmas karena mereka adalah anak bangsa kita,” katanya.</p>
<p>SPPG Diminta Hentikan Operasional Sementara</p>
<p>Langkah tegas juga diambil terhadap SPPG yang memasok makanan MBG kepada para siswa.</p>
<p>Misharti mengatakan SPPG tersebut diminta menghentikan sementara operasionalnya atau di-suspend hingga hasil pemeriksaan keluar dan ada keputusan dari Badan Gizi Nasional (BGN).</p>
<p>“SPPG itu harus di-suspend. Diberhentikan dulu sampai hasil BGN menentukan,” tegas Misharti.</p>
<p>Menurutnya, kewenangan terkait status SPPG berada pada BGN. Sementara pemerintah daerah bertugas memastikan pelaksanaan program MBG di wilayahnya berjalan sesuai standar operasional prosedur.</p>
<p>Ia menegaskan, program MBG harus dilaksanakan dengan standar keamanan dan kualitas yang ketat karena menyangkut kesehatan anak-anak sekolah.</p>
<p>“Pak Presiden menginginkan agar SPPG betul-betul melaksanakan kegiatan sesuai standar operasional prosedurnya,” pungkasnya.</p>
<p>Kini, perhatian tertuju pada hasil pemeriksaan sampel makanan dan evaluasi SPPG. Hasil tersebut diharapkan dapat mengungkap penyebab pasti gangguan kesehatan yang dialami puluhan siswa SMKN 1 Tapung Hulu sekaligus menjadi dasar untuk menentukan langkah selanjutnya. (red)</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://www.suarakampar.com/3981/siswa-bergelimpangan-di-puskesmas-sppg-mbg-tapung-hulu-diminta-stop/feed</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Korban Dugaan Keracunan MBG Tapung Hulu Bertambah, Malam Hari Lima Siswa Kembali Dirawat</title>
		<link>https://www.suarakampar.com/3976/korban-dugaan-keracunan-mbg-tapung-hulu-bertambah-malam-hari-lima-siswa-kembali-dirawat</link>
					<comments>https://www.suarakampar.com/3976/korban-dugaan-keracunan-mbg-tapung-hulu-bertambah-malam-hari-lima-siswa-kembali-dirawat#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 20 Aug 2026 03:04:01 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[KESEHATAN]]></category>
		<category><![CDATA[#MBG #KeracunanMBG]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.suarakampar.com/?p=3976</guid>

					<description><![CDATA[TAPUNG HULU (SK) — Kasus dugaan keracunan yang dialami siswa SMKN 1 Tapung Hulu, Kabupaten Kampar, setelah menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG) belum sepenuhnya reda. Hingga Rabu (19/8/2026) malam sekitar pukul 20.00 WIB, lima siswa kembali mendapatkan penanganan medis di Puskesmas Suka Ramai. Kepala Puskesmas Suka Ramai, Nurhaidin, mengatakan kelima siswa tersebut datang untuk [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>TAPUNG HULU (SK) — Kasus dugaan keracunan yang dialami siswa SMKN 1 Tapung Hulu, Kabupaten Kampar, setelah menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG) belum sepenuhnya reda.</p>
<p>Hingga Rabu (19/8/2026) malam sekitar pukul 20.00 WIB, lima siswa kembali mendapatkan penanganan medis di Puskesmas Suka Ramai.</p>
<p>Kepala Puskesmas Suka Ramai, Nurhaidin, mengatakan kelima siswa tersebut datang untuk mendapatkan penanganan. Namun, kondisi mereka pada Kamis pagi disebut sudah membaik.</p>
<p>“Masih ada masuk jam 20.00 WIB lima orang, tapi pagi ini keadaan sudah baik,” ungkap Nurhaidin.</p>
<p>Sebelumnya, 81 siswa SMKN 1 Tapung Hulu dilaporkan dilarikan ke fasilitas kesehatan setelah mengalami sejumlah keluhan usai menyantap menu MBG di sekolah pada Selasa (18/8/2026).</p>
<p>Kepala SMKN 1 Tapung Hulu, Nanang Sunarto, mengatakan para siswa mengalami gejala seperti pusing, mual, muntah hingga diare.</p>
<p>Namun, Nanang menegaskan pihak sekolah belum dapat memastikan penyebab gangguan kesehatan tersebut.</p>
<p>Menurutnya, perlu menunggu hasil pemeriksaan laboratorium sebelum dapat disimpulkan apakah kejadian tersebut benar-benar berkaitan dengan makanan MBG yang dikonsumsi para siswa.</p>
<p>“Belum bisa menyebutkan itu keracunan atau bukan. Hasil labor dulu. Apakah hasil labor sudah keluar atau belum, kita belum tahu,” ujar Nanang.</p>
<p>Ia menyebut menu MBG yang disajikan kepada siswa saat kejadian berupa sop ayam.</p>
<p>Terkait jumlah siswa yang mengalami keluhan, Nanang menyebut jumlahnya cukup banyak, bahkan diperkirakan mendekati 100 orang. Namun, pihak sekolah masih melakukan pendataan untuk memastikan jumlah pastinya.</p>
<p>“Siswa cukup banyaklah, itu kan ada kurang lebih 100 lah,” katanya.<br />
<strong><br />
Menunggu Jawaban dari Hasil Laboratorium</strong></p>
<p>Peristiwa ini kini menjadi perhatian karena jumlah siswa yang mengalami keluhan kesehatan cukup besar dan masih adanya siswa yang mendapatkan penanganan medis hingga Rabu malam.</p>
<p>Meski demikian, penyebab pasti kejadian tersebut belum dapat dipastikan.</p>
<p>Pemeriksaan terhadap sampel makanan dan pemeriksaan medis terhadap para siswa diharapkan dapat memberikan jawaban mengenai penyebab munculnya gejala yang dialami para pelajar.</p>
<p>Masyarakat pun menunggu hasil pemeriksaan tersebut agar persoalan ini tidak berkembang menjadi spekulasi.</p>
<p>Satu hal yang pasti, program yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan gizi anak-anak sekolah harus benar-benar menjamin keamanan makanan yang disajikan.</p>
<p>Kini perhatian tertuju pada satu pertanyaan:</p>
<p>Apa yang sebenarnya terjadi setelah para siswa menyantap menu MBG sop ayam tersebut?</p>
<p>Jawabannya menunggu hasil pemeriksaan laboratorium.</p>
<p>(Red)</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://www.suarakampar.com/3976/korban-dugaan-keracunan-mbg-tapung-hulu-bertambah-malam-hari-lima-siswa-kembali-dirawat/feed</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Karhutla Kampar Meluas, Sejumlah Titik Masih Dalam Penanganan Petugas</title>
		<link>https://www.suarakampar.com/3900/karhutla-kampar-meluas-sejumlah-titik-masih-dalam-penanganan-petugas</link>
					<comments>https://www.suarakampar.com/3900/karhutla-kampar-meluas-sejumlah-titik-masih-dalam-penanganan-petugas#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 19 Aug 2026 03:50:09 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[KESEHATAN]]></category>
		<category><![CDATA[kebakaranhutan2026]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.suarakampar.com/?p=3900</guid>

					<description><![CDATA[KAMPAR — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menjadi perhatian di Kabupaten Kampar, Riau. Sejumlah titik kebakaran terjadi di tengah kondisi cuaca panas dan hembusan angin yang berpotensi mempercepat penjalaran api. Laporan terbaru yang tersedia hingga 17 Agustus 2026 mencatat sedikitnya tiga kejadian kebakaran lahan di wilayah Kabupaten Kampar. Lokasinya berada di Desa Rimbo Panjang [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>KAMPAR —</strong> Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menjadi perhatian di Kabupaten Kampar, Riau. Sejumlah titik kebakaran terjadi di tengah kondisi cuaca panas dan hembusan angin yang berpotensi mempercepat penjalaran api.</p>
<p>Laporan terbaru yang tersedia hingga 17 Agustus 2026 mencatat sedikitnya tiga kejadian kebakaran lahan di wilayah Kabupaten Kampar. Lokasinya berada di Desa Rimbo Panjang dan Desa Tarai Bangun, Kecamatan Tambang, serta Desa Sungai Jalau, Kecamatan Kampar Utara.</p>
<p>Di Desa Rimbo Panjang, lahan yang terbakar berada di Jalan HM Nazir, tepat di depan Pondok Pesantren Gontor 7. Luas lahan yang terdampak diperkirakan sekitar 0,3 hektare. Api telah berhasil dipadamkan, meski petugas masih menemukan kepulan asap di lokasi.</p>
<p>Sementara itu, kebakaran di Desa Sungai Jalau, Kecamatan Kampar Utara, menghanguskan sekitar dua hektare lahan. Api dilaporkan telah padam, namun proses pendinginan tetap dilakukan karena masih terdapat asap. Kawasan tersebut merupakan area mineral gambut dengan vegetasi perkebunan sawit dan karet.</p>
<p>Kondisi berbeda terjadi di Desa Tarai Bangun, Kecamatan Tambang. Kebakaran di Jalan Keluarga dan Jalan Perwira diperkirakan telah membakar sekitar tiga hektare lahan gambut yang ditumbuhi vegetasi sawit. Hingga laporan terakhir, api di lokasi tersebut belum sepenuhnya padam.</p>
<h3>Angin Kencang Jadi Kendala</h3>
<p>Petugas gabungan dari BPBD Kampar, TNI, Polri, Manggala Agni dan Masyarakat Peduli Api (MPA) masih melakukan pemadaman, penyekatan, pendinginan serta pemantauan untuk mencegah api meluas.</p>
<p>Kondisi lapangan menjadi tantangan tersendiri. Sejumlah lokasi sulit dijangkau kendaraan, sumber air berada cukup jauh dari titik kebakaran, sementara angin kencang dapat membuat api kembali menjalar ke area yang belum terbakar.</p>
<p>Selain tiga titik tersebut, karhutla yang lebih luas juga dilaporkan terjadi di Desa Kualu Nenas, Kecamatan Tambang. Kebakaran di kawasan Jalan Uka itu diperkirakan telah mencapai sekitar <strong>10 hektare</strong> lahan berupa semak belukar di atas gambut yang cukup tebal.</p>
<p>Kapolres Kampar AKBP Boby Putra Ramadhan Sebayang turun langsung memimpin penanganan di lokasi tersebut pada 14 Agustus. Sekitar <strong>55 personel gabungan</strong> dikerahkan untuk melakukan pemadaman dan pendinginan. Penanganan juga didukung satu unit helikopter untuk water bombing serta sejumlah mesin pemadam.</p>
<h3>Kampar Catat Hotspot Terbanyak di Riau</h3>
<p>Di tengah upaya pemadaman, jumlah titik panas di Provinsi Riau memang menunjukkan penurunan. Berdasarkan pemantauan BMKG Pekanbaru pada 15 Agustus, terdapat <strong>26 hotspot</strong> di Riau.</p>
<p>Namun, Kabupaten Kampar justru menjadi wilayah dengan jumlah hotspot terbanyak dalam pemantauan tersebut, yakni <strong>10 titik</strong>. Hotspot lainnya tersebar di sejumlah kabupaten seperti Pelalawan, Indragiri Hilir, Kuantan Singingi dan Kepulauan Meranti.</p>
<p>Kondisi tersebut menunjukkan bahwa penurunan jumlah hotspot belum otomatis berarti ancaman karhutla telah berakhir. Api yang berada di lahan gambut dapat bertahan di bawah permukaan dan kembali muncul apabila proses pendinginan tidak dilakukan secara menyeluruh.</p>
<h3>Masyarakat Diminta Tidak Membakar Lahan</h3>
<p>BPBD Kampar mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan pembukaan lahan dengan cara membakar. Warga juga diminta segera melaporkan apabila menemukan titik api maupun kepulan asap di sekitar permukiman, perkebunan atau kawasan hutan.</p>
<p>Kapolres Kampar juga mengingatkan masyarakat untuk bersama-sama menjaga lingkungan dan tidak melakukan pembakaran lahan secara sembarangan. Penyebab kebakaran di Kualu Nenas sendiri masih dalam proses penyelidikan.</p>
<p>Dengan masih berlangsungnya penanganan di sejumlah lokasi, kewaspadaan terhadap karhutla di Kabupaten Kampar perlu terus ditingkatkan. Kolaborasi pemerintah daerah, aparat keamanan, petugas pemadam dan masyarakat menjadi kunci agar kebakaran tidak berkembang menjadi bencana yang lebih besar.</p>
<p><strong>Catatan redaksi:</strong> Naskah ini menggunakan informasi terbaru yang dapat diverifikasi secara daring hingga <strong>19 Agustus 2026</strong>. Karena belum ditemukan laporan kejadian baru yang terbit tepat pada 19 Agustus, angka dan kondisi di atas merujuk pada laporan lapangan terakhir yang tersedia, terutama perkembangan 14–17 Agustus 2026.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://www.suarakampar.com/3900/karhutla-kampar-meluas-sejumlah-titik-masih-dalam-penanganan-petugas/feed</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
